2.15.2010

SHAUM SUNAH


Shaum bagi umat muslim adalah suatu ibadah. Saya lebih suka menggunakan kata shaum sari pada puasa karena “shaum” adalah istilah yang dipakai langsung oleh Nabi Muhammad, sementara “ puasa” adalah istilah yang berasal dari bahasa sanskerta,karena berbeda dari asal istilah inilah shaum dan puasa juga memiliki makna yang berbeda, shaum untuk puasanya kaum muslim sementara puasa untuk puasanya orang yang hidup dalam zaman kerajaan-kerajaan yang menggunkan huruf sanskerta, saya yakin orang-orang di zaman itu kebanyakan bukan beragama Islam. Shaum termasuk dalam Rukun Islam,tiada sempurna Islam seseorang tanpa shaum. Shaum dalam Islam terbagi atas dua jenis yaitu shaum wajib dan shaum dan shaum sunnah. Shaum wajib adalah shaum di bulan Ramadhan. Shaum sunnah adalah shaum selain di bulan Ramadhan. Menurut sumber yang saya dapat, shaum sunnah ada 10 macam, yaitu :

1. Shaum Dawud

Rasulullah SAW bersabda “Shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Dawud dan shaum yang paling disukai Allah adalah shaum Dawud. Ia tidur setengah malam dan bangun pada sepertiganya dan tidur lagi pada seperenamnya, ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (Mutafaq’alaih) Keterangan: Shalat dan shaum yang dilakukan Nabi Dawud memiliki fadhilah karena sifat seimbangnya. Selain bangun malam, beliau juga tidur secukupnya, demikian pula shaum tidak dilaksanakan sepanjang hari. Hal ini akan lebih melanggengkan amalan karena terlalu membebani diri dengan amalan yang berat akan sangat berpotensi futur atau mandeg dalam beramal. Tidak diperbolehkan melaksanakan shaum sepanjang masa tanpa diselingi hari untuk berbuka. Karena ada 5 hari dimana shaum diharamkan yaitu 2 hari raya dan 3 hari tasyrik.

2. Shaum Hari Arafah

Rasulullah SAW bersabda: “Shaum pada hari Arafah akan menghapus dosa 2 tahun, tahun lalu dan tahun yang akan datang.” (H.R Muslim) Keterangan: Imam Nawawi menjelaskan, shaum Arafah akan menjadi kafarah dan penghapus dosa yang dilkukan selama setahun sebelum melaksanakan shaum dan dosa satu tahun setelah melaksanakan shaum Arafah. Menurut al Mawardi, maksudnya adalah Allah akan mengampuni dosa selama dua tahun atau menjaganya dari melakukan dosa selama dua tahun. Shaum Arafah disunahkan kepada yang tidak melaksanakan haji. Waktunya yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah atau bertepatan dengan ibadah wukuf di Arafah bagi jemaah haji. Bagi yang melakukan haji, menurut pendapat ulama diantaranya madzhab Syafi’I,lebih baik berbuka agar mampu berdoa lebih banyak. Meski boleh juga tetap shaum jika dirasa mampu.

3. Shaum 6 hari di bulan Syawal

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melaksankan shaum Ramadhan kemudian dilanjutukan dengan shaum 6 hari di bukan Syawal maka seakan-akan ia telah shaum selam setahun penuh.” (H.R Muslim) Imam Nawawi menyatakan, ulama menjelaskan bahwa kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Ramadhan akan berlipat pahalanya menjadi sepuluh bulan dan shaum enam hari di bulan syawal menjadi 60 hari atau 2 bulan. Sehingga yang menjalankan shaum Ramadhan dan ditambah shaum 6 hari di bulan Syawal seperti telah menuai kebaikan shaum selama setahun. Menurut madzhab Syafi’I, shaum ini lebih afdhal jika dilaksanakan langsung setelah hari idul fitri secara berurutan. Akan tetapi fadhilah tatabu’(atba’ahu) tetap akan didapatkan meski dilaksanakan pada hari terpisah.

4. Shaum hari senin dan kamis

Rasulullah SAW bersabda: “Semua amal akan ditunjukkan (pada Allah) pada ahari Senin dan Kamis, maka aku suka jika saat amalku ditunjukkan, aku dalam kondisi Shaum.” ( Hadits Hasan riwayat at Tirmidzi) Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi disebutkan bahwa arti ditunjukkan adalah ditunjukkan kepada Allah. Hal ini berbeda dengan raf’ul amal atau diangkatnya amal pada setiap siang dan malam atau pada bulan Sya;ban. Shaum senin kamis dimaksudkan untuk menambah derajat kemulian. Jika telah terbiasa dengan Shaum Dawud dan saat itu bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka menurut sebagian ulama diantaranya Ibnu Rajab,kita bisa meniatkan shaum Dawud sekaligus shaum Senin atau Kamis. Dan Insya Allah pahala kedua shaum itu bisa diraih. Seperi juga mandi Jum’at atau mandi Janabat atau seperti shalat tahiyatul masjid dengan shalat Fajar

5. Shaum 10 pertama Bulan Dzulhijjah

Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak ada hari dimana amal salih pada hari itu lebih disukai Allah dari pada sepuluh hari ini.” Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad fisabilillah?” Beliau bersabda,”Tidak pula jihad fisabilillah, kecuali seseorang yang pergi dengan hartanya lalu tidak kembali lagi.” (HR. at Tirmidzi,Abu daud dan Ahmad) Ibnu Hajar menjelaskan bahwa sepuluh hari tersebut adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam riwayat lain. Waktu tersebut dimuliakan karena didalamnya terdapat amalah haji, shaum Arafah dan hari raya idul Adha yang menjadi penutupnya yang diharamkan shaum pada hari raya tersebut.

6. Shaum Ayyamul Bidh

Dari Abu Dzar berkata, “Rasulullah SAW menyuruh kami shaum tiga hari setiap bulan, yaitu pada hari ketiga belas,empat belas, dan lima belas. Beliau berkata “Itu seperti shaum setahun.” (H.R An Nasa’i) Dinamakan Al Bidh (putih) karena pada malam hari tanggal-tanggal tersebut bulan bersinar paling terang. Maksud dari “Seperti Shaum setahun” artinya pahalanya yang berlipat hingga seakan-akan seperti shaum setahun penuh. Shaum ini dilaksanakan apada tanggal ke-13,ke-14.ke-15 setiap bulan, kecuali di hari-hari tasyrik. Ibnu Rajab menjelaskan bahwa pada tanggal-tanggal tersebut kemungkinan besar terjadi gerhana Matahari. Sehingga dianjurkan agar pada saat gerhana muncul seorang hamba dalam keadaan baik. Disamping shalat gerhana,sedekah, juga dalam keadaan Shaum.

7. Shaum ‘Asyura dan Tasu’a

Rasulullah SAW ditanya tentang shaum pada hari Asyura’ maka beliau bersabda, “ Akan menghapus dosa setahun yang lampau” (HR. Muslim) Para ulama menjelaskan, yang akan dihapus adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar. Karena dosa besar hanya akan diampuni jika bertaubat atau atas rahmat Allah. Imam an Nawai menambahkan, semua amal bisa menjadi kafarah bagi dosa. Jika ada dosa kecil, shaum ini akan menjadi kafarahnya dan jika tidak ada lagi, maka diharapkan shaum ini dapat mengurangi beban dosa besar. Adapun pelaksanaannya, jumhur ulama mengatakan bahwa ‘Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharram. Dan hendakanya shaum ‘Asyura diiringi dengan shaum pada hari sebelumnya ( 9 Muharram ) atau seseudahnya ( 11 Muharram ) sebagaimana dijelaskan dalam hadits Bukhari. Hal ini dimaksudkan untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi yang juga melaksanakan puasa pada hari tersebut untuk memperingati saat dimana Musa AS. diselamatkan Fir’aun.

8.Shaum di bulan Muharram

Rasulullah SAW. bersabda “Shaum yang paling utama setelah Ramadhan adalah shaum di Bulan Muharram dan Shalat yang paling utama setelah shalat fardu adalah shalat malam.” (HR. Muslim, at Tirmidzi dan Abu Daud) Meskipun dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa Nabi SAW lebih banyak shaum pada bulan Rajab, akan tetapi hal ini tidak menafikan fadhilah bulan Muharram. Karena bisa tehjadi Nabi SAW mengetahui fadhilah bulan muharram pda masa-masa akhor (kenabian Beliau) atau beliau banyak menemui uzur pada bulan ini sepert safar dan sebagainya. Yang dimaksud dalam hadits di atas adalah bahwa fadhilah shaum ada pada seluruh bulan Muharram, bukan hanya pada tanggal 10 dimana pada hari itu disunahkan shaum Asyura saja. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi syarh Sunan at Tirmidzi.

9. Shaum di Bulan Sya’ban

Dari Aisyah, Ummul Mukminin RA beliau berkata, “ Rasullullah Saw melaksanakan shaum hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berbuka dan beliau berbuka (tidak shaum) hingga kami katakana beliau tak pernah shaum. Dan saya tidak melihat beliau menyempurnakan shaum sebulan penuh selain Ramadhan dan saya juga tidak melihat beliau lebih banyak menjalankan shaum dalam satu bulan kecuali di bulan sya’ban.” (HR. Muslim) Imam an Nawawi menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat anjuran agar hendaknya tidak ada bulan yang kosong dari ibadah shaum. Di bulan Sya’ban Rasulullah SAW banyak melakakukan shaum tapi tidak satu bulan penuh.Hal ini agar umatnya tidak menganggap bahwa shaum di bulan Sya’ban adalah wajib. Pada dasarnya, shaum Nafilah tidak terlalu terikat dengan waktu, bisa dilaksanakan kapan saja selain pada beberapa hari yang dilarang. Sehingga sangat dianjurkan untuk memperbanyak shaum pada setiap bulannya. Khusus pada hari terakhir bulan Sya’ban,yaitu tanggal 30 dianjurkan untuk melaksanakan shaum sunnah. Hari tersebut disebut “Yaumul Syak” atau hari yang meragukan dimana kepastian awal Ramadhan masih dalam tahap penentuan. Karena bisa saja Sya’ban hanya berlangsung selama 29 hari. Sedang ibadah tak boleh dibangun atas dasar keraguan. Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang shaum pada hari Syak maka ia telah mendurhakai Abu Al Qasim (Rasulullah SAW) .” (HR. Bukhari) Akan tetapi, menurut madzhab Syafi’I jika telah terbiasa dengan shaum sunnah seperti shaum Dawud, Senin dan Kamis, atau yang lain dan hari shaumnya bertepatan dengan tanggal 30 maka tidak mengapa tetap menjalankan shaum.

10. Shaum untuk bujangan yang belum mampu menikah

Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian yang telah memiliki kemampuan untuk menikah, maka hendaklah segera menikah, karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah shaum karena shaum akan menjadi perisai baginya.” ( HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah SAW mengkhususkan para pemuda karena nafsu mereka cenderung lebih besar daripada orang tua. Syahwat yang bergejolak bisa dibendung dengan shaum. Karena dengan shaum akan membuat fisik tidak sebukar jika tidak shaum dan pikiran akan terhindar dari angan-angan kotor karena selalu teringat bahwa saat itu sedang menjalani shaum. Sebab, dalam shaum angan atau pikiran yang kotor merupakan faktor perusak dan pemusnah pahala. Namun, shaum juga tidak memberikan jaminan seratus persen bahwa pelakunya tidak akan berbuat maksiat sama sekali. Shaum akan berfungsi seperti alarm bagi orang yang benar-benar ingin menjaga diri jika suatu ketika dorongan nafsu dan setan membisiki. Solusi terbaik untuk mengatasi gelombang syahwat adalah menikah. Namun, bagi yang belum mampu menikah shaum dapat menjadi alternative terbaik untuk mengatasi masalah sementara waktu dengan catatan shaum dilaksanakan dengan tulus dan sungguh-sungguh.

Sumber: Majalah ar risalah